
Dibahas dari buku Cashflow Qudran karya Robert T. Kitosaki
Peran Uang.
Uang adalah alat pembayaran yang sesuai hukum. Sebagai alat pembayaran, uang merupakan alat yang mempermudah perdagangan/pertukaran. Namun uang itu sendiri bukan yang diutamakan dalam mengukur kekayaan seseorang. Tolok ukur kekayaan seseorang adalah berapa lama uang dan aset yang ia miliki, dapat membuatnya mencukupi kebutuhan hidupnya.
Misalnya, nilai uang yang sangat jauh berbeda antara nilai Rupiah sekarang (2009) dengan nilai rupiah 20 tahun yang lalu. Orang yang memiliki uang Rp. 1000 pada masa kini, jauh lebih miskin bila dibandingkan dengan orang yang memiliki Rp. 1000 pada masa 30 tahun lalu.
Juga menyangkut gaya hidup,ada yang mampu bertahan selam 10 Bulan dengan RP. 10 Juta, ada juga yang hanya perlu 2 Bulan untuk menghabiskannya.
Fungsi Uang.
Uang yang dipegang di tangan kita tidak akan bermanfaat bila tidak bisa ditukarkan dengan barang2 yang kita butuhkan. Misalnya seorang yang memiliki sekoper uang tapi terdampar di pulau tanpa penghuni, tidak akan bisa membelanjakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Uang menjalankan fungsinya dengan baik dan mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya bilamana kita menggunakannya sebagai alat tukar. Uang yang mengalir/berputar (cash-flow) itu sendiri yang akan meningkatkan kekayaan kita.
Seseorang yang menyembunyikan uangnya (cash) di bawah tempat tidurnya, akan menemukan bahwa jumlah uang yang ia temui beberapa waktu kemudian, akan tetap sama dengan jumlah uang yang dia simpan.
Berbeda dengan seorang yang membeli apartemen/rumah (atau aset yang lain) dan menyewakannya kepada orang lain. Uang orang ini berputar. Dia mengeluarkan uang untuk membeli aset, dan memperoleh pemasukan dari aset tersebut. Selain itu (memperoleh uang sewa), dia juga masih memiliki aset itu sendiri.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa uang itu sendiri akan berguna dan bertambah bila di-ALIR-kan (dengan cara yang semestinya tentunya).
Seperti yang disebutkan dalam analogi di atas, uang menjalankan fungsinya dan berkembang, bila uang itu sendiri berputar (mengalir). Ide untuk menyimpan uang dalam tabungan di bank sebenarnya merupakan suatu bentuk aliran uang. Dimana uang tersebut digunakan oleh bank sebagai dana, kemudian memberi kredit kepada orang lain, yang kebanyakan adalah nasabah bank itu sendiri (kita, yang menabung di bank tersebut). Bank menerima bunga kredit dari para peminjam, dan memperoleh keuntungan dengan cara mengalirkan dana yang ada. Kita sebagai penabung/nasabah sebenarnya juga mengalirkan uang yang kita miliki. Dengan menabung (mempercayakan uang kita di bank), kita memperoleh bunga (yang jauh lebih kecil dari bunga kredit yang diajukan bank kepada nasabahnya).
Apa itu Cashflow Quadrant?
Cashflow Quadrant adalah gambaran mengenai 4 tipe aliran (pemasukan) uang seseorang.
1. Definisi setiap symbol yang ada, dan contohnya
E = Employee (pegawai)
Kuadran pertama adalah tempat para pegawai dan buruh pabrik serta orang-orang yang bekerja sebagai karyawan pada orang lain. Tidak termasuk staf-ahli pada suatu organisasi. Pada kuadran ini, orang memiliki kemampuan umum yang rata-rata dimiliki atau dapat dipelajari kebanyakan orang. Kebanyakan orang di dunia berada pada kuadran ini. Dengan kata lain, sebagian besar penduduk dunia bergantung pada organisasi milik orang lain untuk mendapat penghasilan.
Masalah orang-orang pada kuadran ini ialah mereka memperoleh penghasilan dengan bergantung pada bisnis orang lain. Walaupun mereka tidak menanggung resiko kerugian yang harus ditanggung para pemilik perusahaan dan penanam modal, namun sebenarnya pemasukan mereka akan sangat dipengaruhi oleh keberlangsungan (untung-rugi) perusahaan tempat mereka bekerja. Orang pada kuadran ini merasa aman dengan penghasilan (yang menurut mereka) “tetap” yang mereka peroleh pada masa kerja/produktiv mereka. Sebagian dengan (merasa) cerdik menabung dalam berbagai bentuk untuk masa pensiun mereka.
b. S = Self-employee (pekerja lepas)
Kuadran “S” berisikan orang-orang spesialis di bidang mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka bekerja dengan bayaran per jam atau sesuai dengan tingkat keberhasilan mereka. Profesi pada kuadran kedua ini antara lain: pialang, bankir, dokter pribadi, dan lain-lain. Mereka adalah orang yang benar-benar mengandalkan keahlian diri mereka sendiri untuk memperoleh pendapatan.
Masalah utama orang-orang pada kuadran ini ialah mereka akan selalu mengandalkan keahlian mereka dan menjual jasa kepada pihak lain. Orang pada kuadran ini meningkatkan penghasilan mereka dengan bekerja lebih giat, bekerja lebih produktiv, bekerja lebih lama. Pada akhirnya kebanyakan mereka menguras tenaga untuk menjadikan orang lain lebih sukses, sedangkan mereka hanya mendapat sedikit presentase dari keuntungan orang tersebut. Walaupun memiliki penghasilan yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun tanpa persiapan yang cukup untuk hari tua, mereka akan menemui kesulitan finansial ketika mereka tidak lagi produktiv, dan keahlian mereka menumpul.
c. B = Business-owner (pemilik usaha)
Kuadran berikutnya berisikan orang-orang yang memiliki dan mengelola usaha/bisnis sendiri. Walaupun kebanyakan dari mereka tidak menduduki jabatan penting pada perusahaan mereka sendiri, namun orang-orang pada kuadran ini selalu campur tangan dalam menentukan arah kebijakan bisnis mereka. Orang-orang ini mempercayakan bisnis mereka pada sistem yang mereka miliki. Mereka membangun/membeli/mendapatkan sistem dan mengembangkannya.
Boleh dikatakan bahwa mereka adalah kebalikan dari orang-orang pada kuadran “E”. Alih-alih mempercayakan sumber penghasilan mereka dari pihak lain, mereka menanggung resiko dan membangun bisnis mereka sendiri. Orang pada kuadran ini menemukan kesempatan/ide untuk berbisnis, dan menciptakan sistem yang bekerja untuk mereka. Yang penting bagi mereka bukan hanya jenis bisnis, namun ‘sistim’ yang dapat diandalkan sangat mereka tekankan dalam membangun bisnis mereka.
d. I = Investor (penanam modal)
Kuadran “I” ditempati oleh mereka yang menanam saham / memberikan modal untuk orang (bisnis) lain. Bila kuadran “B” berisikan pemilik bisnis, maka orang-orang kuadran keempat inilah yang membeli saham perusahaan mereka dan dengan demikian memberikan modal kepada perusahaan tersebut. Mereka mempercayakan uang mereka kepada para pebisnis di kuadran ketiga, sambil memantau ‘situasi’ kalau mereka perlu merevisi keputusan mereka.
Orang-orang pada kuadran keempat ini, dapat sangat mempengaruhi ‘perusahaan’ milik para pebisnis di kuadran ketiga. Namun sebaliknya, perkembangan bisnis yang mereka ‘biayai’ dengan uang mereka dapat membuat mereka kaya ataupun jatuh miskin. Faktor yang sangat dihargai oleh seorang investor yang baik adalah ‘timing’ untuk membeli atau menjual suatu saham (untuk orang yang berinvestasi di bidang ini), prospek dari perusahaan, dan pengaruh pasar dan politik terhadap bisnis dimana mereka hendak berinvestasi.